https://www.seminarisdmhokeng.sch.id/beritahttps://www.seminarisdmhokeng.sch.id/berita
Sabtu,
26 September 2026 di “tenda pengungsian” Saron Larantuka, SMAS Seminari San
Dominggo (SESADO) Hokeng menerima
kunjungan balasan SMK Ancop Berasrama (ANCOP), Likotuden. Kedua sekolah saling
berbagi pengalaman dan mempererat persaudaraan dalam tema “Merayakan
kreativitas, Literasi, dan Persaudaraan”. Tema itu terurai dalam kegiatan tukar majalah dinding
(mading), sharing pengalaman hidup di sekolah dan asrama, serta pertandingan
futsal.
Setelah
pengalungan selendang kepada RD. Alfonsus P. Wungubelen, Kepala SMK ANCOP sebagai ketua
rombongan,
dan penyematan pita kepada para pembina ANCOP, rombongan ini dipandu penari
Hedung SESADO menuju pendopo. Anggota rombongan terlarut dalam langkah seirama
hentakan kaki diiringi bunyi gong dan gendang serta ayunan tombak dan parang
penari hingga tiba di pendopo Saron.
Bapa
Rumah, Rm. Martin Kapitan Sogen, PR. menerima rombongan di pendopo dengan
sapaan khas SESADO. Selanjutnya para para pembina, guru, dan pegawai SESADO
turut menerima mereka dan bersama-sama berarak masuk ke Rumah Rahim Kehidupan
dan Taman Kegembiraan. Doa dan animasi dilakukan Seminaris dan Pembina SESADO.
Persaudaraan
mulai terasa. Para Seminaris duduk berbaur dengan saudara-saudari mereka dari
ANCOP. Percakapan kecil mulai terjadi di antara mereka.
Demikian
juga keakraban antara pembina kedua sekolah. RD. Alfons--yang sebelumnya
menjadi Kepala SMAS Seminari San Dominggo, Hokeng—merasa pulang ke rumah dan
berterima kasih atas penerimaan SESADO. Animasi ala para siswa SESADO juga
menjadi kegiatan di ANCOP.
RD.
Alexander Boli Losor—Kepala SMAS Seminari San Dominggo—menyambut baik kunjungan
balasan ANCOP. Beliau mengajak kedua sekolah untuk saling menghargai pendapat
orang lain dan berbagi pengetahuan dengan murah hati seperi konsep “Aryapatia”.
Konsep itu terwujud dalam bertukar mading.
Orang
dapat berliterasi menulis bila dia mengumpulkan informasi dengan membaca.
Informasi tersebut dibagikan melalui tulisan. Ujung kegiatan itu adalah orang
dapat berpikir kritis, menyaring informasi, menentukan kebenaran, dan hoax.
Ini merupakan kecakapan yang diperlukan di abad ini, literasi dan numerasi.
Tukar Mading
Konsep
Aryapatia terungkap saat sesi pembedahan mading kedua sekolah. SESADO tampil
dengan tema, “Langkah Seirama Rasa Sejiwa.” Madingnya dibedah oleh Ventus
Tokan, Oky Kumanireng, dan Ribert Hokeng. SMK ANCOP hadir dengan mading bertema
“Perjalanan dan Mimpi” dan dibedah oleh Kristian Lionel dan Epin Beribe.
Suasana
ruangan diskusi sangat hangat. Seminaris maupun siswa-siswi ANCOP terlibat
aktif, menuangkan perhatian secara penuh, juga memberikan tanggapan kepada
pembedah. Potret ini menjadi bukti nyata bahwa kunjungan ini bukan sekadar
menuntaskan program melainkan menjadi ruang untuk berkembang.
Dari
bedah mading terungkap bahwa kerja sama dan kesetiaan merupakan nilai dasar
yang wajib dihidupi setiap siswa. Lingkungan berasrama menghadirkan kesamaan
dan perbedaan dalam sejumlah kegiatan pembinaan di SESADO dan ANCOP. Keduanya
sama meski mempunyai perbedaan. Kerja sama ini hal baik dan perlu terus
dikembangkan.
Bapak
Kornelius kuswono iri, S.Pd., Pembina
OSIS SMK Ancop, dalam wawancara khusus menyatakan pendapatnya bahwa pertukaran
manding menjadi salah satu titik tali persaudaraan bertemu dalam hubungan kerja
sama antarsekolah. Penerapan literasi SESADO baik dan menarik,
tambahnya.
Setelah
kegiatan serius ini, peserta menikmati acara hiburan. Para siswi ANCOP
menyuguhkan tari ragam dan dance yang memanjakan mata. Baptista Namang,
Seminaris SESADO membawakan lagu-lagu berirama penuh semangat. Selingan ini
membuat semua peserta lupa mengantuk di jam rawan kantuk.
Berbagi Pengalaman Hidup
ANCOP mendapat giliran pertama untuk
menyampaikan pengalaman hidup mereka. Geovani, salah satu siswa SMK ANCOP, menyampaikan
pengalaman hidupnya selama berada di asrama. Menurutnya, aturan yang diterapkan
di asrama hampir sama dengan aturan yang berlaku di Seminari. Mereka juga melaksanakan
misa harian, misa Jumat Pertama, dan misa unit. Selain itu, mereka mengikuti kegiatan
rekoleksi dan retret.
Di asrama, mereka didampingi oleh
seorang Bapak Asrama yang adalah seorang pastor serta dua orang Ibu Asrama
dan keduanya suster (biarawati). Kedisiplinan dalam mengatur waktu,
baik di asrama maupun di sekolah, menjadi salah satu tantangan bagi mereka.
Mereka mengalami kesulitan dalam membagi waktu, khususnya ketika harus
melaksanakan berbagai kegiatan OSIS.
Sementara itu, Simon Betan
menuturkan bahwa kehidupan asrama yang dialaminya juga tidak jauh berbeda
dengan kehidupan para Seminaris.
Namun, jumlah siswa laki-laki di SMK ANCOP lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah siswi sehingga ada satu asrama putra dan dua asrama putri.
Simon juga membagikan salah satu
kesulitan yang mereka alami selama tinggal di asrama, yaitu kekurangan air
sebagai sumber utama penunjang
berbagai aktivitas dan kegiatan di asrama.
Selain itu, salah seorang siswi yang
menjabat sebagai sekretaris OSIS membagikan pengalaman mengenai program-program
OSIS kepada para Seminaris.
Salah satu kegiatan OSIS yang mereka laksanakan adalah pertukaran mading dengan
SMAS Seminari San Dominggo, Hokeng.
SESADO
diwakili Markus Irak
Wutun. Dia membagikan
pengalamannya selama hidup di asrama Seminari. Salah satu pengalaman nyata yang ia
ceritakan terjadi ketika berada di kamar mandi atau kamar belakang, yaitu
budaya berbagi pasta gigi. Ketika salah seorang teman membawa pasta gigi,
teman-teman lainnya akan datang dan meminta pasta gigi tersebut. Menariknya,
teman yang memiliki pasta gigi tidak merasa kesal, marah, ataupun terganggu. Ia
justru memberikan pasta giginya dengan senang hati.
Ada pula pengalaman berharga yang
dirasakan di meja makan. Para Seminaris
saling berbagi makanan atau yang biasa disebut kobo. Meskipun makanan yang dibagikan
hanya sedikit, semua teman yang berada di meja makan dapat menikmatinya. Bagi Ais, demikian panggilan
akrab Markus Irak Wutun, pengalaman tersebut merupakan gambaran nyata tentang
arti ikatan persaudaraan dan persahabatan sejati yang ia rasakan selama menjadi
siswa Seminari.
Pertandingan Futsal
Tim
futsal SESADO dan ANCOP bertemu di lapangan futsal Kelurahan Larantuka. Saat
sinar matahari berkurang panasnya di tepi Pantai Sandom kedua tim beradu
kekuatan, bertanding untuk memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Dengan
disaksikan
anggota rombongan ANCOP dan keluarga besar SESADO kedua tim berlaga.
Tak
perlu waktu lama. Tim ANCOP dengan
kecerdasan dan kekompakan berhasil
membobol pertahanan gawang SESADO. Pertandingan menjadi lebih hangat. Tim
SESADO berjuang untuk memberikan balasan kepada tim ANCOP. Semakin sore,
pertandingan semakin panas. Kedua tim semakin bersemangat. Teriakan penonton
menyemangati masing-masing tim. Di akhir set kedua, tim ANCOP berhasil
mengungguli SESADO 10-4.
Pertandingan
telah berakhir. Pertandingan menghasilkan pihak yang menang dan kalah. ANCOP
memenangkan pertandingan futsal atas SESADO. Meski demikian, persaudaraan
keduanya tetap terbina. Sesungguhnya, pertandingan menjadi tali penguat
persaudaraan. Persaudaraan bukan hanya
tentang bertemu, tetapi tentang saling menerima, berbagi, belajar, dan
bertumbuh bersama..
“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”.
Peliput:
Tim Ekskul Jurnalistik
Sabtu,
26 September 2026 di “tenda pengungsian” Saron Larantuka, SMAS Seminari San
Dominggo (SESADO) Hokeng menerima
kunjungan balasan SMK Ancop Berasrama (ANCOP), Likotuden. Kedua sekolah saling
berbagi pengalaman dan mempererat persaudaraan dalam tema “Merayakan
kreativitas, Literasi, dan Persaudaraan”. Tema itu terurai dalam kegiatan tukar majalah dinding
(mading), sharing pengalaman hidup di sekolah dan asrama, serta pertandingan
futsal.
Setelah
pengalungan selendang kepada RD. Alfonsus P. Wungubelen, Kepala SMK ANCOP sebagai ketua
rombongan,
dan penyematan pita kepada para pembina ANCOP, rombongan ini dipandu penari
Hedung SESADO menuju pendopo. Anggota rombongan terlarut dalam langkah seirama
hentakan kaki diiringi bunyi gong dan gendang serta ayunan tombak dan parang
penari hingga tiba di pendopo Saron.
Bapa
Rumah, Rm. Martin Kapitan Sogen, PR. menerima rombongan di pendopo dengan
sapaan khas SESADO. Selanjutnya para para pembina, guru, dan pegawai SESADO
turut menerima mereka dan bersama-sama berarak masuk ke Rumah Rahim Kehidupan
dan Taman Kegembiraan. Doa dan animasi dilakukan Seminaris dan Pembina SESADO.
Persaudaraan
mulai terasa. Para Seminaris duduk berbaur dengan saudara-saudari mereka dari
ANCOP. Percakapan kecil mulai terjadi di antara mereka.
Demikian
juga keakraban antara pembina kedua sekolah. RD. Alfons--yang sebelumnya
menjadi Kepala SMAS Seminari San Dominggo, Hokeng—merasa pulang ke rumah dan
berterima kasih atas penerimaan SESADO. Animasi ala para siswa SESADO juga
menjadi kegiatan di ANCOP.
RD.
Alexander Boli Losor—Kepala SMAS Seminari San Dominggo—menyambut baik kunjungan
balasan ANCOP. Beliau mengajak kedua sekolah untuk saling menghargai pendapat
orang lain dan berbagi pengetahuan dengan murah hati seperi konsep “Aryapatia”.
Konsep itu terwujud dalam bertukar mading.
Orang
dapat berliterasi menulis bila dia mengumpulkan informasi dengan membaca.
Informasi tersebut dibagikan melalui tulisan. Ujung kegiatan itu adalah orang
dapat berpikir kritis, menyaring informasi, menentukan kebenaran, dan hoax.
Ini merupakan kecakapan yang diperlukan di abad ini, literasi dan numerasi.
Tukar Mading
Konsep
Aryapatia terungkap saat sesi pembedahan mading kedua sekolah. SESADO tampil
dengan tema, “Langkah Seirama Rasa Sejiwa.” Madingnya dibedah oleh Ventus
Tokan, Oky Kumanireng, dan Ribert Hokeng. SMK ANCOP hadir dengan mading bertema
“Perjalanan dan Mimpi” dan dibedah oleh Kristian Lionel dan Epin Beribe.
Suasana
ruangan diskusi sangat hangat. Seminaris maupun siswa-siswi ANCOP terlibat
aktif, menuangkan perhatian secara penuh, juga memberikan tanggapan kepada
pembedah. Potret ini menjadi bukti nyata bahwa kunjungan ini bukan sekadar
menuntaskan program melainkan menjadi ruang untuk berkembang.
Dari
bedah mading terungkap bahwa kerja sama dan kesetiaan merupakan nilai dasar
yang wajib dihidupi setiap siswa. Lingkungan berasrama menghadirkan kesamaan
dan perbedaan dalam sejumlah kegiatan pembinaan di SESADO dan ANCOP. Keduanya
sama meski mempunyai perbedaan. Kerja sama ini hal baik dan perlu terus
dikembangkan.
Bapak
Kornelius kuswono iri, S.Pd., Pembina
OSIS SMK Ancop, dalam wawancara khusus menyatakan pendapatnya bahwa pertukaran
manding menjadi salah satu titik tali persaudaraan bertemu dalam hubungan kerja
sama antarsekolah. Penerapan literasi SESADO baik dan menarik,
tambahnya.
Setelah
kegiatan serius ini, peserta menikmati acara hiburan. Para siswi ANCOP
menyuguhkan tari ragam dan dance yang memanjakan mata. Baptista Namang,
Seminaris SESADO membawakan lagu-lagu berirama penuh semangat. Selingan ini
membuat semua peserta lupa mengantuk di jam rawan kantuk.
Berbagi Pengalaman Hidup
ANCOP mendapat giliran pertama untuk
menyampaikan pengalaman hidup mereka. Geovani, salah satu siswa SMK ANCOP, menyampaikan
pengalaman hidupnya selama berada di asrama. Menurutnya, aturan yang diterapkan
di asrama hampir sama dengan aturan yang berlaku di Seminari. Mereka juga melaksanakan
misa harian, misa Jumat Pertama, dan misa unit. Selain itu, mereka mengikuti kegiatan
rekoleksi dan retret.
Di asrama, mereka didampingi oleh
seorang Bapak Asrama yang adalah seorang pastor serta dua orang Ibu Asrama
dan keduanya suster (biarawati). Kedisiplinan dalam mengatur waktu,
baik di asrama maupun di sekolah, menjadi salah satu tantangan bagi mereka.
Mereka mengalami kesulitan dalam membagi waktu, khususnya ketika harus
melaksanakan berbagai kegiatan OSIS.
Sementara itu, Simon Betan
menuturkan bahwa kehidupan asrama yang dialaminya juga tidak jauh berbeda
dengan kehidupan para Seminaris.
Namun, jumlah siswa laki-laki di SMK ANCOP lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah siswi sehingga ada satu asrama putra dan dua asrama putri.
Simon juga membagikan salah satu
kesulitan yang mereka alami selama tinggal di asrama, yaitu kekurangan air
sebagai sumber utama penunjang
berbagai aktivitas dan kegiatan di asrama.
Selain itu, salah seorang siswi yang
menjabat sebagai sekretaris OSIS membagikan pengalaman mengenai program-program
OSIS kepada para Seminaris.
Salah satu kegiatan OSIS yang mereka laksanakan adalah pertukaran mading dengan
SMAS Seminari San Dominggo, Hokeng.
SESADO
diwakili Markus Irak
Wutun. Dia membagikan
pengalamannya selama hidup di asrama Seminari. Salah satu pengalaman nyata yang ia
ceritakan terjadi ketika berada di kamar mandi atau kamar belakang, yaitu
budaya berbagi pasta gigi. Ketika salah seorang teman membawa pasta gigi,
teman-teman lainnya akan datang dan meminta pasta gigi tersebut. Menariknya,
teman yang memiliki pasta gigi tidak merasa kesal, marah, ataupun terganggu. Ia
justru memberikan pasta giginya dengan senang hati.
Ada pula pengalaman berharga yang
dirasakan di meja makan. Para Seminaris
saling berbagi makanan atau yang biasa disebut kobo. Meskipun makanan yang dibagikan
hanya sedikit, semua teman yang berada di meja makan dapat menikmatinya. Bagi Ais, demikian panggilan
akrab Markus Irak Wutun, pengalaman tersebut merupakan gambaran nyata tentang
arti ikatan persaudaraan dan persahabatan sejati yang ia rasakan selama menjadi
siswa Seminari.
Pertandingan Futsal
Tim
futsal SESADO dan ANCOP bertemu di lapangan futsal Kelurahan Larantuka. Saat
sinar matahari berkurang panasnya di tepi Pantai Sandom kedua tim beradu
kekuatan, bertanding untuk memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Dengan
disaksikan
anggota rombongan ANCOP dan keluarga besar SESADO kedua tim berlaga.
Tak
perlu waktu lama. Tim ANCOP dengan
kecerdasan dan kekompakan berhasil
membobol pertahanan gawang SESADO. Pertandingan menjadi lebih hangat. Tim
SESADO berjuang untuk memberikan balasan kepada tim ANCOP. Semakin sore,
pertandingan semakin panas. Kedua tim semakin bersemangat. Teriakan penonton
menyemangati masing-masing tim. Di akhir set kedua, tim ANCOP berhasil
mengungguli SESADO 10-4.
Pertandingan
telah berakhir. Pertandingan menghasilkan pihak yang menang dan kalah. ANCOP
memenangkan pertandingan futsal atas SESADO. Meski demikian, persaudaraan
keduanya tetap terbina. Sesungguhnya, pertandingan menjadi tali penguat
persaudaraan. Persaudaraan bukan hanya
tentang bertemu, tetapi tentang saling menerima, berbagi, belajar, dan
bertumbuh bersama..
“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”.
Peliput:
Tim Ekskul Jurnalistik