https://www.seminarisdmhokeng.sch.id/beritahttps://www.seminarisdmhokeng.sch.id/berita
Bagaimana
kepedulian para siswa terhadap isu yang berkembang hangat di lingkungannya?
Pertanyaan seperti itu sering mengemuka. Implikasinya penanya mempunyai
persepsi dan harapan tertentu kepada orang-orang muda yang masih bersekolah
ini.
Para siswa SMAS
Seminari Menengah San Dominggo, satu bagian kecil dari para siswa, ternyata mempunyai kepedulian terhadap isu
yang berkembang hangat di lingkungannya. Hal ini terbukti dengan
diselenggarakannya kegiatan diskusi ilmiah lintas mata pelajaran rumpun IPS “Tantangan
Pengembangan Energi Geotermal di Flores antara Potensi dan Realita” pada Jumat,
17 April 2026 pukul 10,30—13.00 bertempat di Gedung Serbaguna Seminari Menengah
San Dominggo. Kegiatan dibuka oleh Ibu Grace, Wakasek Kurikulum, dan diikuti
keluarga besar Seminari.
Diskusi ini
dari, oleh, dan untuk siswa di bawah bimbingan para guru mata pelajaran. Ada
empat siswa menjadi narasumber diskusi ilmiah ini. Anton Kabelen X2 meninjuau
tema diskusi beradasarkan mata pelajaran Sejarah, Riki Mukin XI2 dari Geografi, Xello Open XI2
dari Sosiologi, dan Rino Danibao dari Antropologi.
Bagaimana Potensi
Geotermal di Flores?
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
berkembang pesat. Seluruh kegiatan pembangunan dan kemajuan tersebut bersinggungan dengan energi. Fakta
menunjukkan bahwa kebutuhan energi baru merupakan hal yang mendesak. Sumber
energi yang baru perlu dicari untuk mengurangi ketergantungan akan energi yang
bersumber pada minyak bumi.
Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, zona
vulkanik dan seismik sepanjang 40.000 km yang mengelilingi Samudra Pasifik.
Dengan 127 gunung api aktif, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di
dunia. Aktivitas lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia menciptakan
reservoir panas bumi ideal untuk pengembangan energi geotermal berkelanjutan.
Pulau Flores terletak strategis di Cincin Api
Pasifik, menjadikannya lokasi ideal untuk pengembangan energi geotermal
terbarukan. Dengan aktivitas vulkanik tinggi dan reservoir panas bumi yang
melimpah, Flores memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi
regional. Namun, pengembangan ini menghadapi tantangan kompleks: dampak
lingkungan terhadap ekosistem lokal, konflik sosial dengan masyarakat adat,
serta kebutuhan infrastruktur di wilayah terpencil.
Flores memiliki potensi panas bumi sekitar
7.200 megawatt yang tersebar di 12 Wilayah Kerja Panas Bumi [WKP], merujuk data
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2023. Dari jumlah tersebut,
beberapa proyek strategis yakni PLTP Ulumbu di Manggarai [40 Megawatt], PLTP
Mataloko di Ngada [20 Megawatt], dan PLTP Sokoria di Ende [30 Megawatt] telah
beroperasi. Sementara WKP lainnya seperti Oka Ile Ange [Flores Timur], Atadei
[Lembata], Poco Leok [Manggarai]; PLTP Ulumbu unit 5-6, Wae Sano [Manggarai
Barat], Nage [Ngada], dan lain-lain, sedang dalam tahap eksplorasi.
Energi geothermal dapat dimanfaatkan dalam bidang
pertanian, perikanan secara langsung dan secara tidak langsungnya untuk
pembangkit listrik. Di samping dampak positif, ada juga dampak negatifnya
seperti, kerusakan hutan, peningkatan risiko seismik, pelesekan tanah dan
risiko perubahan relief bumi, serta timbulnya gas rumah kaca dan lepasan gas
beracun berupa Hidrogen Sulfida (H2S).
Para narasumber
menyadari bahwa pengembangan dan pemanfaatan energi geothermal tidak selamanya
mendapat sambutan baik dari masyarakat. Kebutuhan energi dari waktu ke waktu
dalam semua bidang kehidupan semakin besar. Energi geothermal merupakan salah
satu aternatif baik dan hal itu merupakan hal positif yang mendukung
pemanfaatan geothermal. Meski demikian, pemanfaatan geotermal membawa dampak negatif
yang tidak sedikit bagi lingkungan. Ini biasanya menjadi alasan penolakan
pemanfaatan energi geothermal.
Diskusi berjalan
lancar dan hangat dibawah arahan Toni Wangga sebagai moderator. Cuaca panas
tidak menghambat para peserta untuk menyimak paparan narasumber. Buktinya
banyak siswa berpatisipasi aktif pada sesi tanya jawab, bahkan ada penanya yang
harus memendam pertanyaannya karena terbatasnya waktu kegiatan.
Pemanfaatan
energi geothermal bukanlah pilihan. Energi geothermal perlu dimanfaatkan dengan
tetap memperhatikan lingkungan dan pendekatan sosial yang baik dan tepat kepada
masyarakat. Tambahan informasi serta penegasan dari Ibu Sinta dan Pak Fian
melengkapi pemahaman para peserta tentang materi diskusi ini.
Acara diskusi
ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh orator.
Peliput
Freferikus Payong Ado, XI2; Ibu Cicih
Bagaimana
kepedulian para siswa terhadap isu yang berkembang hangat di lingkungannya?
Pertanyaan seperti itu sering mengemuka. Implikasinya penanya mempunyai
persepsi dan harapan tertentu kepada orang-orang muda yang masih bersekolah
ini.
Para siswa SMAS
Seminari Menengah San Dominggo, satu bagian kecil dari para siswa, ternyata mempunyai kepedulian terhadap isu
yang berkembang hangat di lingkungannya. Hal ini terbukti dengan
diselenggarakannya kegiatan diskusi ilmiah lintas mata pelajaran rumpun IPS “Tantangan
Pengembangan Energi Geotermal di Flores antara Potensi dan Realita” pada Jumat,
17 April 2026 pukul 10,30—13.00 bertempat di Gedung Serbaguna Seminari Menengah
San Dominggo. Kegiatan dibuka oleh Ibu Grace, Wakasek Kurikulum, dan diikuti
keluarga besar Seminari.
Diskusi ini
dari, oleh, dan untuk siswa di bawah bimbingan para guru mata pelajaran. Ada
empat siswa menjadi narasumber diskusi ilmiah ini. Anton Kabelen X2 meninjuau
tema diskusi beradasarkan mata pelajaran Sejarah, Riki Mukin XI2 dari Geografi, Xello Open XI2
dari Sosiologi, dan Rino Danibao dari Antropologi.
Bagaimana Potensi
Geotermal di Flores?
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
berkembang pesat. Seluruh kegiatan pembangunan dan kemajuan tersebut bersinggungan dengan energi. Fakta
menunjukkan bahwa kebutuhan energi baru merupakan hal yang mendesak. Sumber
energi yang baru perlu dicari untuk mengurangi ketergantungan akan energi yang
bersumber pada minyak bumi.
Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, zona
vulkanik dan seismik sepanjang 40.000 km yang mengelilingi Samudra Pasifik.
Dengan 127 gunung api aktif, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di
dunia. Aktivitas lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia menciptakan
reservoir panas bumi ideal untuk pengembangan energi geotermal berkelanjutan.
Pulau Flores terletak strategis di Cincin Api
Pasifik, menjadikannya lokasi ideal untuk pengembangan energi geotermal
terbarukan. Dengan aktivitas vulkanik tinggi dan reservoir panas bumi yang
melimpah, Flores memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi
regional. Namun, pengembangan ini menghadapi tantangan kompleks: dampak
lingkungan terhadap ekosistem lokal, konflik sosial dengan masyarakat adat,
serta kebutuhan infrastruktur di wilayah terpencil.
Flores memiliki potensi panas bumi sekitar
7.200 megawatt yang tersebar di 12 Wilayah Kerja Panas Bumi [WKP], merujuk data
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2023. Dari jumlah tersebut,
beberapa proyek strategis yakni PLTP Ulumbu di Manggarai [40 Megawatt], PLTP
Mataloko di Ngada [20 Megawatt], dan PLTP Sokoria di Ende [30 Megawatt] telah
beroperasi. Sementara WKP lainnya seperti Oka Ile Ange [Flores Timur], Atadei
[Lembata], Poco Leok [Manggarai]; PLTP Ulumbu unit 5-6, Wae Sano [Manggarai
Barat], Nage [Ngada], dan lain-lain, sedang dalam tahap eksplorasi.
Energi geothermal dapat dimanfaatkan dalam bidang
pertanian, perikanan secara langsung dan secara tidak langsungnya untuk
pembangkit listrik. Di samping dampak positif, ada juga dampak negatifnya
seperti, kerusakan hutan, peningkatan risiko seismik, pelesekan tanah dan
risiko perubahan relief bumi, serta timbulnya gas rumah kaca dan lepasan gas
beracun berupa Hidrogen Sulfida (H2S).
Para narasumber
menyadari bahwa pengembangan dan pemanfaatan energi geothermal tidak selamanya
mendapat sambutan baik dari masyarakat. Kebutuhan energi dari waktu ke waktu
dalam semua bidang kehidupan semakin besar. Energi geothermal merupakan salah
satu aternatif baik dan hal itu merupakan hal positif yang mendukung
pemanfaatan geothermal. Meski demikian, pemanfaatan geotermal membawa dampak negatif
yang tidak sedikit bagi lingkungan. Ini biasanya menjadi alasan penolakan
pemanfaatan energi geothermal.
Diskusi berjalan
lancar dan hangat dibawah arahan Toni Wangga sebagai moderator. Cuaca panas
tidak menghambat para peserta untuk menyimak paparan narasumber. Buktinya
banyak siswa berpatisipasi aktif pada sesi tanya jawab, bahkan ada penanya yang
harus memendam pertanyaannya karena terbatasnya waktu kegiatan.
Pemanfaatan
energi geothermal bukanlah pilihan. Energi geothermal perlu dimanfaatkan dengan
tetap memperhatikan lingkungan dan pendekatan sosial yang baik dan tepat kepada
masyarakat. Tambahan informasi serta penegasan dari Ibu Sinta dan Pak Fian
melengkapi pemahaman para peserta tentang materi diskusi ini.
Acara diskusi
ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh orator.
Peliput
Freferikus Payong Ado, XI2; Ibu Cicih